07
Jan
08

Penjara Bukan Solusi!

you.jpg
Oleh Wayan Agus Purnomo

Sudah bukan rahasia lagi, penjara bukanlah tempat yang kondusif bagi pengguna narkoba. Dalam artian, penjara bukan menjadi jawaban untuk membantu pecandu narkoba untuk mencapai kesembuhan. Sudah menjadi rahasia umum pula, kalau pecandu narkoba bisa “naik pangkat” ketika sudah pernah mencicipi dinginnya lantai penjara. Awalnya hanya pengedar kemungkinan besar bisa menjadi bandar. Kondisi ini tentu kontradiktif dengan tujuan awal pemidanaan bagi pecandu narkoba, memberi efek jera. Alih-alih menjadi kapok, pecandu nakoba justru bisa menjadi rantai baru bagi peredaran narkoba.

Tidak usah jauh-jauh. Tertangkapnya KPLP Kerobokan akibat tersandung kasus narkoba bisa dijadikan parameter. Pihak yang seharusnsya menjadi pengawas agar bisa menimalisir peredaran narkoba justru berbisnis narkoba. Tentu bisa dibayangkan betapa kronisnya bisnis peredaran narkoba dalam penjara. Penjara bukan tempat yang bersahabat bagi pecandu untuk mencapai kesembuhan. Sehingga, diperlukan sistem terpadu yang lebih memiliki daya dukung bagi pecandu narkoba untuk mengatasi ketergantungannya. Kenyataan ini menjadi bukti sahih bahwa ada yang tidak beres dengan manajemen lapas terkait dengan narkoba.

Hasil penelitian terhadap napi narkoba di lapas dan Rumah Tahanan Negara, hasil kerja sama Bada Pusat Statistik dengan Badan Narkotika Nasional tahun 2006 menemukan sebanyak 8,7 persen dari 1868 responden penghuni lapas pernah memakai narkoba. Artinya, sebanyak 162 orang napi pernah memakai narkoba. Bayangkan berapa jumlah pemakai narkoba dalam penjara jika di dibandingkan dengan jumlah napi sesungguhnya. Namun hasil penelitian bisa saja berbeda dengan kenyatan yang ditemui di lapangan. Bukan tidak mungkin pemakai narkoba di penjara persentasenya jauh lebih besar. Bahkan 4,4 persen pernah melakukan transaksi narkoba dalam penjara dan 9,5 persen responden mengaku pernah ditawari narkoba oleh sesama narapidana.

Harus diakui kebanyakan lembaga permasyarakatan di berbagai daerah di Indonesia sudah overload, tidak terkecuali Lapas Kerobokan. Banyaknya penghuni lapas, dengan aneka kasus kriminal, menjadi tidak kondusif lagi bagi sebagian penghuninya. Transfer ilmu kejahatan menjadi lebih mudah dilakukan. Apalagi untuk kasus narkoba. Peluang bertemunya bandar besar dengan bandar kecil menjadi sangat besar. Belum lagi dengan pecandu yang sebelumnya hanya berstatus pemakai. Bahkan, banyak pihak menyebutkan, bisnis narkoba di luar penjara dikendalikan dari dalam penjara.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya fasilitas kesehatan di lapas. Banyak napi yang tidak mendapat perawatan kesehatan semestinya akibatnya minimnya jumlah tenaga medis. Bahkan, untuk mendapatkan perawatan kesehatan, sejumlah napi mengaku harus menyetorkan sejumlah uang tertentu. Tidak heran, angka kematian napi di penjara semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kematian ini, mayoritas, disebabkan napi bersangkutan mengidap HIV positif atau penyakit bawaan. Sehingga ketika tidak mendapat perawatan yang layak, kondisi kesehatannya semakin memburuk dan berujung pada kematian.

Sehingga, untuk mencegah semakin meluasnya peredaran narkoba dalam penjara, Bali membutuhkan lapas khusus narkoba. Namun, calon penghuni lapas ini benar-benar harus diseleksi secara ketat melalui peraturan hukum yang berlaku. Misalnya, siapa yang bisa dikategorikan sebagai pengedar dan siapa yang dikategorikan sebagai pecandu. Dengan adanya pemilahan ini, maka penempatan tahanan juga bisa diseleksi. Pengedar kelas kakap tentu harus dijauhkan dari tahanan lain. Sedangkan pecandu biasa tentu harus diawasi lebih ketat agar tidak kembali memakai narkoba. Begitu juga petugas lapas. Mereka yang bekerja di lapas harus dipilih orang-orang yang memang punya komitmen tinggi untuk mencegah peredaran dan pemakaian narkoba, idealnya.

Nantinya, lapas khusus narkoba ini juga hendaknya dilengkapi dengan poliklinik untuk tahanan yang berstatus Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selain itu lapas narkoba ini juga dilengkap dengan Voluntary Counseling and Test (VCT) atau tempat konseling tes sukarela bekerja sama dengan rumah sakit dan lembaga swadaya masyarakat. Pembangunan poliklinik ini merupakan upaya untuk menekan angka kematian di lapas akibat kasus HIV/AIDS yang diderita narapidana kasus narkoba.

Selain penyediaan konseling HIV, poliklinik dalam lapas khusus narkoba juga hendaknya mengupayakan harm reduction (pengurangan dampak buruk). Para napi itu dites urinenya sehingga bisa digolongkan mana saja pengguna narkoba aktif. Mereka yang kadar adiksinya rendah bisa mensubstitusi narkotika dengan metadhone. Tingkat adiksi metadhone yang relatif rendah akan membuat napi bisa berperilaku lebih produktif dan positif. Dengan demikian, pecandu bisa melakukan kegiatan bermanfaat buat dirinya.

Tidak ada alternatif lain untuk membantu napi narkoba untuk mengatasi ketergantungan terhadap narkoba. Persoalan narkoba tidak bisa diselesaikan dengan metode represif dengan menghukum pemakai narkoba dengan pidana penjara. Harus ada alternatif lain. Sekarang, political will pemerintah mutlak diperlukan untuk memanusiakan napi. Tidak hanya menjadikan pecandu sebagai komoditas atau obyek eksperimental di dalam penjara. Jangan sampai penjara membuat napi khususnya pemakai narkoba tersandera hak-haknya. Apalagi tergadaikan harga diri dan hak asasinya. Sebab, napi juga manusia.

http://www.ikonbali.org/archives/60


5 Responses to “Penjara Bukan Solusi!”


  1. April 25, 2008 pukul 4:26 am

    penjara justru mejadi area kejahatan baru. efektifitas penjara sudah lama dipertanyakan. meskipun benar bahwa napi itu manusia, buat aja alternatif penyelesaian kejahatan, misal dengan kerja sosial, selain mereka tidak melulu nganggur dipenjara yang justru memunculkan ide-ide kejahtan baru, mereka bisa menghasilkan biaya yang tidak harus ditanggung negara yang juga berasal dari rakyat. masak rakyat yang dirugikan atas kejahatan mereka, saat mereka ditahanpun makan duit rakyat. kapan rakyat bisa menang?…

  2. 3 aubrey
    Juni 11, 2008 pukul 2:47 pm

    penjara narkotika jakarta adalah penjara yg tidak manusiawi…

  3. 4 me!!!!
    Juli 15, 2008 pukul 5:32 am

    petugas lapas nya kaya na kurang kesejahteraannya d…masa dy tega minta roko sama napi yg jelas2 ga punya uang!!!!
    dy bilang “terserah…lw mw dapet tuh roko dari mana yang penting…lw kasih roko itu ke gw…” akhirnya tuh napi rela2in utang ke warung buat dapetin roko itu…
    heran….apa2 ko serba uang…mw liat jadwal dy pulang aj….susah nya minta ampun…harus bayar dulu..kayanya klo napi yg dari kalangan bawah bener2 bisa mati kali ya disana………..

    cover nya c kayana bner2 mantap…”membina para napi”…tapi yg ad malah meres tuh napi

    mw ngejenguk aj…harus ngumpulin uang yg banyak dulu,,,,pas dngejenguk juga ga tenang…cos para petugas sipir nya pasti udah colak colek mimta “jatah”
    cape deh
    kok kaya gitu ya…..

    gw pernah punya temen disana….untungnya dia orang dari kalangan atas…jadi ya ga melas2 amad lah…
    tuhan………..ampuunilah para penjilat itu……………
    aminnnnnn

    gw kesel

  4. September 7, 2008 pukul 1:54 pm

    Surat Anda akan kami tindak lanjuti. Terima kasih atas saran dan masukannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


narko1.jpg
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip Artikel

Galeri Foto

Model Batu Candi Aromatherapy

Model Batu Candi Aromatherapy

Model Gentong Madura 1 Aromatherapy

Model Gentong Madura 2 Aromatherapy

Pelatihan Aromatherapy C 137

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: