09
Des
07

Analisa : Pengguna Narkoba Tidak Harus Dipenjara

Jakarta,(Analisa) Pengguna narkoba tidak harus dipenjara, tapi dikirim ke pusat rehabilitasi, salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas (lapas) dan rumah tahanan (rutan) saat ini.

“Berdasarkan pasal 47 UU No.22/1997 mengenai Narkotika, pengguna narkoba tidak harus dimasukkan ke lapas tapi ke rehabilitasi. Kalau ini diterapkan, dapat mengurangi masalah ‘over capacity’ di lapas,” kata Dirjen Pemasyarakatan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Untung Sugiyono seusai peluncuran Buku Pedoman Perawatan Terapi Rumatan Metadon di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa.

Langkah tersebut menjadi cukup penting karena hampir sepertiga dari jumlah narapidana maupun tahanan di lapas/rutan ditanah air sekarang adalah karena kasus narkoba. Data dari Departemen Hukum dan HAM menyebutkan pecandu narkoba di lapas dan rutan mencapai 27 persen atau sebanyak 34.833 narapidana dan tahanan dari 128.876 orang.
Kelebihan kapasitas lapas/rutan itu menyebabkan timbulnya masalah lebih jauh, karena ditengarai para pecandu narkoba tersebut tidak berhenti mengkonsumsi narkoba di penjara.

Akibatnya, penyebaran virus mematikan HIV/AIDS juga cukup tinggi di lapas/rutan, karena selain pertukaran jarum suntik juga karena hubungan seksual diantara narapidana.

“Idealnya, untuk mencegah penyebaran HIV, masing-masing narapidana dimasukkan dalam sel sendiri-sendiri, namun itu tidak dimungkinkan disini,” papar Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Indonesia, Nafsiah Mboi.

Salah satu cara yang ditempuh Dephukham adalah menyelenggarakan program terapi rumatan metadon (PTRM) yang merupakan salah satu dari pendekatan pengurangan dampak buruk (harm reduction) penularan HIV/AIDS melalui narkotik suntik.

Metadon dengan cara diminum berupa opiat (narkotik) sintesis yang kuat seperti heroin, tetapi tidak menimbulkan efek sedative yang kuat yang bertujuan pada akhirnya untuk menghilangkan ketergantungan terhadap obat terlarang.

Namun saat ini belum semua narapidana pengguna narkoba mengikuti program TRM tersebut karena sifatnya masih sukarela, belum diwajibkan dan masih harus diseleksi terlebih dahulu.

“Tidak dapat dipaksakan (mengikuti program) karena itu kan hak mereka untuk menentukan. Butuh kesadaran karena dengan kesadaran akan lebih mudah mendisiplinkan orang untuk terus mengikuti program TRM. Selain itu, daya tahan tiap orang tidak sama, ada yang tidak tahan menggunakan metadon. Jadi harus diseleksi dulu. Ada konselingnya,” papar Untung.

Sejak tahun 2005, program TRM diselenggarakan di lapas Kerobokan, Bali yang diikuti oleh 93 narapidana. Pada Desember 2006, dua lapas di Jakarta yakni lapas Cipinang dan rutan Pondok Bambu juga menyelenggarakan program serupa yang diikuti 124 narapidana.

Pada 2008, total akan ada 11 lapas/rutan yang akan menyelenggarakan program TRM dan jumlah tersebut akan naik menjadi 35 lapas/rutan pada 2010, demikian Untung. (Ant)

http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1140&Itemid=2


0 Responses to “Analisa : Pengguna Narkoba Tidak Harus Dipenjara”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


narko1.jpg
Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip Artikel

Galeri Foto

Model Batu Candi Aromatherapy

Model Batu Candi Aromatherapy

Model Gentong Madura 1 Aromatherapy

Model Gentong Madura 2 Aromatherapy

Pelatihan Aromatherapy C 137

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: